Pada
Hari Sabtu 12 April 2019 telah diadakan
sebuah workshop dengan tema “Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship” yang
telah diikuti oleh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam yang dibimbing oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan, acara
dilaksanakan di Masjid At Taubah Jl. Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.

Foto : kawasan
eks Lokalisasi Dolly
Dolly atau Gang
Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang
terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di
kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan
berdinding kaca mirip etalase.
Konon
lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih
besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan
pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu
daerah tujuan wisata Surabaya
bagi wisatawan mancanegara
Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan
dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada
di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di
tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat,
Surabaya.
Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki
bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung,
penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks
berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan.
Sebagian besar
di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk
Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Konon, Dolly di
lokalisasi pelacuran disebut-sebut yang terbesar se-Asia Tenggara. Betapa
tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut.
Pria hidung belang
kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya
penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk
memuaskan birahi.Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding
resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di
Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Lokalisasi ini hampir menyelimuti
seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota
Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang
ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Dalam beberapa
kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya
menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan
memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata
pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para
tentara untuk datang kembali.
Dalam
perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya
prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang
di Surabaya.
Dolly juga
menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat
lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer
rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di
bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para
pengunjung.
Tidak hanya
itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima,
tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah
simbiosis mutualisme.
Kisah lain
tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku
berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks
Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu
disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah
Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar
tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan
makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan
kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang
mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam,
menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.
Setahun
kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan
makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri
rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I.
Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat
wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.
Dolly semakin
berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana
semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat,
lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Belakangan,
ramai dibicarakan bahwa tempat prostitusi ini bakal ditutup oleh pemerintah
setempat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu aktor utama
yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya ditutup.
Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian
menjadi akhir-akhir ini.
Pertanyaannya,
mampukah sang wali kota menutup Dolly? Pasalnya, Dolly juga diyakini menjadi
salah satu penyumbang APBD terbesar setiap bulannya bagi pemerintah Surabaya,
berkisar hingga puluhan miliar rupiah, uang yang
masuk dari praktik haram itu ke pemerintah daerah Surabaya.
Foto : kunjungan
kuliah lapangan di masjid at taubah
Selain terkenal dengan area lokalisasinya di
tengah tengah pemukiman masyarakat tersebut juga ada masjid yang cukup tua di
daerah itu, yaitu Masjid At-Taubah. Masjid yang berada di area lokalisasi Dolly ini
ternyata berdiri diatas tanah wakaf seorang mantan muncikari yang insaf bernama
Supri. Pada tahun 1987 tanah wakaf milik beliau dibangun Musholla dengan nama
Al-huda yang berarti petunjuk. Bangunan mushollah Al-Huda tidak terlihat
seperti Mushollah pada umumnya, karena mirip rumah gubuk yang senantiasa
berdatangan jamaah berjumlah 250 orang.
Karena jumlah jamaah semakin
banyak dan sisa tanah yang masih luas, tahun 1987 pengurus Mushollah dan Supri sepakat
untuk merenofasi menjadi masjid. Tanggal 17 Februari 1989, musholla Al Huda
selesai direnofasi dan diberi nama Masjid At Taubah oleh Alm. K.H Munawar
Jailani yang berarti taubat. Jum’at 17 februari juga merupakan khutbah perdana
sholat jum’at di masjid At-Taubah.
Hampir 25 tahun At-Taubah kokoh
berdiri dengan perubahan yang pesat. Kini masjid At-Taubah bisa berdiri dengan
tiga lantai, lantai atas untuk TK berbasic Islamiah dan juga untuk TPA (Taman
Pendidikan Al-qur’an) dimana para santri yang mengaji adalah warga yang ada di
sekitar gang Dolly.

Foto : penutupan lokalisasi dolly oleh walikota Surabaya Bu
Risma
Dolly sudah ditutup oleh Ibu Tri
Rismaharini selaku Walikota Surabaya pada Rabu 18 Juni 2014 yang dibantu oleh
IDIAL MUI Jatim. Dan resmi dideklarasikan penutupannya oleh perwakilan
masyarakat Dolly di Gedung Islamic Center Surabaya. Tetapi, setelah lima tahun
lokalisasi Gang Dolly resmi ditutup, mulai muncul lah kasus-kasus prostitusi
melalui jalur online di Surabaya. Selain itu, terdapat upaya-upaya para PSK
yang menawarkan diri secara sembunyi-sembunyi via makelar-makelar yang
menawarkan secara sembunyi-sembunyi pula. Seperti yang diucapkan oleh Ustadz
Khoiron dalam acara workshop di masjid At-Taubah yang diselenggarakan oleh
mahasiswa UINSA pada hari sabtu tanggal 13 kemarin, beliau menuturkan “Prostitusi
itu tetap akan selalu ada selama syaitan tidak hilang. Tetapi bukan
prostitusinya yang dihilangkan melainkan apa yang ada di prostitusi itu harus
kita basmi.”
Penutupan lokalisasi Dolly ini
dibantu oleh para elemen-elemen dari bapak Sunarto dan Ustadz KH Khoiron serta
dibantu oleh Bapak Sunarto Sholahuddin. Yang dimana bapak Sunarto ini merupakan
seorang dokter prostitusi yang memiliki ide untuk penutupan lokalisasi ini,
lalu ustadz yang senantiasa memberi ceramah para WTS dan mucikari serta bapak
sholahuddin yang membatnu penutupan Dolly ini secara finansial. Di proses
penutupan ini, ustadz Khoiron juga bertemu dengan seorang preman pimpinan
lokalisasi yang sudah bertaubat hingga menemani ustad Khoiron dalam berjuang
untuk menutup daerah lokalisasi Dolly ini. Mantan preman itu bernama Bapak H.
Gatot Subiantoro. Elemen-elemen yang membantu dalam penutupan Dolly ini bernama
FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya). Yang akan saya bahas
mengenai sosok-sosok dibalik penutupan Dolly ini.
Selain mengulas tentang dolly kuliah lapangan kali ini juga di
datangi para motivator yang diantara nya adalah :
H. Sunarto Sholahuddin (Owner PT.
Berkah aneka laut & Bendahara umum Masjid Nurul Fattah Jl. Demak 319
Surabaya)

Foto : kuliah lapangan 13 april 2019
“Kunci utamanya adalah kejujuran
dan rasa optimis.”
Perjalanan owner perusahaan perikanan laut berkualitas internasional yang
berpusat di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Yaitu bapak H. Sunarto Sholahuddin
seorang owner PT. Berkah Aneka Laut dan bendahara umum masjid Nurul Fattah yang
berlokasikan di Jl. Demak nomor 319, Surabaya ini sangatlah patut dijadikan
contoh.
Beliau dilahirkan di desa kecil daerah Menganti, Gresik. Disaat beliau beranjak
dewasa, beliau merantau ke kota lain dan mencoba mencari pekerjaan di kota lain
yang beliau mulai dari bawah seperti bekerja menjadi pelayan toko di Surabaya.
“Saya pernah bekerja sebagai pegawai restoran selama 5 tahun, kemudian berhenti
karena upahnya sangat kecil. Setelah itu, mulai mengembangkan bisnis penangkapan
ikan bersama keluarga dengan nama UD Aneka Laut.”
Di dalam
berdagang, bapak Sunarto mengikuti jejak Rasulullah sewaktu masih berdagang
dengan menerapkan prinsip-prinsip berdagang Rasulullah agar dapat memperoleh
berkah, yaitu :
1. Shidiq :
Jujur.
2. Fatonah :
cerdas, kreatif dan inovatif.
3. Tabligh :
Komunikatif.
4. Amanah :
dapat dipercaya dan tanggung jawab.
Di PT. Berkah Aneka Laut ini juga
menerapkan ibadah dalam berdagang. Seperti, beberapa persen penghasilan yang
dihasilkan oleh perusahaan bapak Shola ini disumbangkan atau di donasikan untuk
pondok pesantren, masjid, anak yatim, kaum dhuafa maupun para pejuang
keagamaan. Saling mendoakan perusahaan lain agar juga sama-sama sukses seperti
perusahaan bapak shola ini. Dan kunci dari berdagang ini hanya ada 3, yaitu :
1. Rajin
belajar dan berdoa, bermimpi dapat meraih cita-cita setinggi-tingginya.
2. Taati
kedua orang tua dan para guru.
3. Disaat
lulus kuliah, janganlah menunggu pekerjaan tetapi cobalah untuk menciptakan
pekerjaan.
Seperti halnya yang terjadi di
Surabaya ini tepatnya disaat penutupan area lokalisasi Dolly Surabaya.
Perusahaan milik bapak Shola ini memberikan bantuan berupa finansial dari
penghasilan perusahaan beliau untuk membantu menutup lokalisasi Dolly ini serta
menyuplai dana untuk mendirikan tempat usaha bagi para mantan WTS dan Mucikari
agar bisa bekerja dengan pekerjaan yang baru dan halal tentunya. Selain itu,
beberapa persen dari penghasilan perusahaan PT. Berkah Aneka Laut ini juga
diberikan kepada para mantan WTS untuk melunasi hutang-hutang mereka agar bisa
terbebas dari para Mucikari dan agar bisa segera memulai pekerjaan baru.
Dr. H. Sunarto AS, MEI (Doktor
Prostitusi/ IDEAL – MUI Jatim)

Foto : kuliah lapangan 13 april 2019
“Dakwah di lokalisasi itu harus
dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi
bersama-sama. Itu yang lebih optiomal.”
Bapak Sunarto AS Lahir di
Surabaya 1959. Menempuh pendidikan Dasar di MI SABILASSALAMA Lulus 1973,
melanjutkan pendidikan ke ponpes Sidogiri Pasuruan mengulang ke MI MIFTACHUL
ULUM melanjutkan pendidikan ke jenjang Mdrasah Tsanawiyah di ponpes Tebuireng
Jombang dan mengikuti ujian ekstrane Tsanawiyah Negri di Tambak beras jombang.
Melanjutkan ke Madrasah Aliyah Salafiya Tebuireng jombang tahun 1979/1980.
Masuk fakultas Dakwah jurusan PPAI IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA tahun 1980 lulus
1987. melanjutkan S2 Ekonomi Islam PPS IAIN SUNAN AMEL SURABAYA lulus 2003.
melanjutkan S3 PPS SUNAN AMPEL SURABAYA jurusan Dirosah Islamiah lulus 2012.
Aktif di ASOSIASI PROFESI DAKWAH
ISLAM INDONESIA (APDI) Sebagai Sekretaris Jenderal 2009-2012, sebagai Ketua V
APDI 2012-2017. Sebagai Ketua Umum Ikatan Dai Area Lokalisasi(IDEAL) MUI Jawa
Timur yang mengawal penutupan lokalisasi di Kota Surabaya dan 47 lokalisasi di
Jawa Timur. Aktif sebagai Dai diberbagai tempat di Jawa Timur dan pernah
berdakwah di Hong Kong dan Macao.Buku ciptaannya,
yaitu :
1. Etika
Dakwah 2011
2. Rethorika
Dakwah 2012
3. Pidato
3 bahasa 2013
4. Kiai
Prostitusi 2014
5. Detik-Detik
Runtuhnya Dolly 2015
Beliau diajak oleh Kiai Prostitusi
yang ada di daerah lokalisasi yaitu KH Khoiron Syuaib untuk memberi pembinaan
kepada WTS dan mucikari agar mau bertobat dari pekerjaan mereka yang sekarang
dan bisa mencari pekerjaan yang lebih halal.
Konteks dakwah beliau
adalah mengubah kemungkaran yang
dimana beliau menggunakan teknik berdakwah dengan metode
Integratif, Persuasif dan Solutif. Sebelum nya beliau
hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu di daerah lokalisasi tetapi
hasilnya tidak akan maksimal dan sangat membutuhkan waktu yang sangat lama
apabila dilakukan seara individu. Sehingga beliau mengajak elemen-elemen
masyarakat yang lain seperti kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di daerah
lokalisasi serta Prof. Ali Aziz selaku salah satu dosen universitas negeri
islam di Surabaya yang sudah mahir dalam bidang berkdakwah.
Bapak Sunarto beserta
elemen-elemen yang lainnya ini mulai mendirikan organisasi yang bernamakan
FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat). Didirikan tahun 2002, Forkemas
memiliki anggota yang terdiri dari perwakilan sejumlah ormas Islam, NU,
Muhammadiyah dan ormas lainnya. Setelah elemen-elemen beliau terbentuk,
FORKEMAS mulai membagi tim mereka menuju ke tempat-tempat lokalisasi yang ada
di Surabaya untuk mengambil beberapa WTS dan Mucikari. Mereka diambil untk
diberikan pembinaan, dakwah serta pengajaran agama yang ditempatkan di asrama
haji oleh FORKEMAS.
Metode yang pertama dilakukan
oleh beliau adalah dakwah dengan metode Integratif (menyeluruh). Beliau
berdakwah di depan WTS dan mucikari itu secara menyeluruh hingga dakwah beliau
bisa masuk ke dalam hati dan juga fisik para WTS adn mucikari ini.
Metode yang kedua adalah
dengan metode Persuasif (pendekatan manusiawi). Dakwah
yang dilakukan oleh Bapak Sunarto ini adalah dengan tidak pernah menyudutkan
para WTS dan mucikari ini yang dimana justru oleh masyarakat setempat ada yang
memandang pekerjaan mereka ini jijik dan aneh. Tetapi beliau beserta FORKEMAS
ini merangkul para WTS dan Mucikari ini layaknya saudara mereka sendiri, beliau
berdialog dengan para WTS dan Mucikari ini sehingga banyak dari mereka yang
lebih terbuka kepada bapak Sunarto.
Langkah yang ketiga adalah metode
dakwah dengan metode Solutif. Dakwah dapat dikatakan berhasil
apabila di dalam berdakwah juga disertakan solusi bagi para pendengar dakwah
agar bisa bangun dan bangkit. Seperti yang dilakukan bapak Sunarto beserta
FORKEMAS ini, beliau tidak hanya memberi dakwah dan ceramah agama tetapi juga
memberikan solusi bagaimana para WTS dan Mucikari ini bisa keluar dengan yakin
dari zona nyaman mereka.
KH Khoiron Syu’aib (Kiai
Prostitusi)

Foto : kuliah lapangan 13 april 2019
“Seorang pendakwah tidak boleh
lelah dan putus asa membimbing mereka ke jalan yang benar,”
Nama lengkap kyai prostitusi ini
adalah Muhammad Khoirin, beliau seorang putra dari pasangan Bapak H. Syu’aib
bin Kia Asim yang merupakan seorang pendatang dari desa Karangturi, kecamatan
Glagah, Kabupaten Lamongan dan Ibu Muntayyah binti Kiai Mu’assan yang berasal
dari desa Tanggul Rejo. Beliau lahir di Surabaya, pada tanggal 17 Agustus 1959.
Beliau terlahir di tengah-tengah “ dunia hitam ” yaitu di lingkungan
prostitusi, di kelurahan Dupak, Bangunsari kota Surabaya.
Pendidikan KH Khoiron Syu’aib,
beliau alumni MI Sabilal Muttaqin Surabaya, Mts Ponpes Tebuireng Jombang, MA
Ponpes Tebuireng Jombang, Sarjana Muda (BA) IKHA Jombang , Sarjana lengkap
(DRS) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Kehidupan beliau di lokalisasi
Surabaya khususnya lokalisasi Dupak dan Bangunsari sehari-harinya akrab dengan
para WTS dan Mucikari, karena beliau tinggal bersama se kelurahan dengan para
Wts dan Mucikari. Sampai beliau memiliki julukan yang khas di daerah lokalisasi
tersebut yaitu ‘Kiainya Para WTS dan mucikari’. Selain itu, beliau juga
membangun sebuah pondok pesantren di Bangunsari yaitu Pondok Pesantren Roudlotul
Khoir
Beliau sudah menulis buku yang
berjudul “Kiai Prostitusi” yang dimana di dalam buku tersebut tertera berbagai
macam cerita beliau disaat berdakwah di area lokalisasi. Tidak hanya cerita
menginspirasi beliau, tetapi juga terdapat tips metode berdakwah untuk di
kalangan prostitusi atau berdakwah di daerah lokalisasi.
Metode berdakwah yang sering
beliau lakukan di area lokalisasi ini adalah dengan membacakan
sholawat nariah di musholla Al-Huda (nama awal sebelum
menjadi masjid At-Taubah) bersama dengan ta’mir mushollah al huda serta
menyampaikan tausiah rutin setiap selesai beribadah agar tausiah beliau dapat
didengarkan oleh para WTS dan Mucikari ini. Tetapi metode yang paling identic
dari dakwah ustad Khoiron ini adalah disaat beliau ceramah, beliau tidak
pernah menyebut kata “dosa” disetiap ceramah beliau.
Beliau hanya menyampaikan ayat-ayat suci Al Qur’an yang menunjukkan kenapa
hal-hal yang diharamkan itu bisa haram.
Seperti disaat ustadz Khoiron
berdialog dengan salah satu WTS yang ada di area lokalisasi ini yang saat itu
WTS tersebut dengan leluasa menyampaikan keluh kesahnya selama menjalani
pekerjaan ini. “Mereka (para WTS ini) sebenarnya ingin keluar dari pekerjaan
mereka, tetapi para WTS ini punya hutang sama Mucikari-mucikarinya. Jadi bisa-tidak
bisa para WTS ini harus ngelunasin dulu hutangnya baru bisa lepas kerja.” Kata
ustadz Khoiron saat menceritakan kisahnya selama berdialog dengan para WTS
dulu. Yang akhirnya oleh ustadz Khoiron diberi bantuan untuk WTS itu agar bisa
terbebas dari hutang dan bisa mencari pekerjaan lain yang lebih halal.
Lalu untuk dakwah kepada preman
sendiri adalah dengan berdialog individu tetapi rutin tetap dengan mengadakan
ceramah setelah ibdaha sholat. Salah satu kisahnya adalah disaat beliau bertemu
dengan salah satu pimpinan preman di area lokalisasi ini. Yaitu bapak Gatot
Subiantoro. Bapak Gatot ini sering sekali ‘bermain’ bersama teman-temannya di
dekat rumah ustadz Khoiron hingga ustadz Khoiron ini hafal kegiatan yang rutin
dilakukan bapak Gatot. Tetapi pada suatu waktu, bapak Gatot ini mendengarkan
ceramah ustadz Khoiron yang saat itu menyentuh hati bapak Gatot. Hingga
akhirnya pada tahun 2000-an inilah bapak Gatot insyaf berkat ceramah ustadz
Khoiron yang beliau dengarkan.
H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman
Lokalisasi)

Foto : kuliah lapangan 13 april 2019
“Kekayaan itu tidak ada habisnya,
kemiskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya.”
Kata-kata yang selalu dan senatiasa beliau ucapkan kepada orang-orang yang mewawancarai
beliau. Iyap, beliau adalah mantan preman atau bahkan mantan pimpinan preman di
area lokalisasi Dolly pada saat zaman Berjaya nya. Hingga beliau dikenal dengan
sebutan Bapak Gatot atau bapak mantan preman, karena memang beliau adalah
mantan pimpinan preman di area lokalisasi.
Jika anda ingat Bang Tato yang
terkenal karena seorang pimpinan preman yang insaf tetapi memiliki tato
disekujur tubuhnya dan mulai mendirikan tempat potong rambut ayah dan anak
serta senantiasa memakai baju panjang untuk menutupi tato yang ada ditubuhnya.
Di Surabaya, anda akan melihat seseorang yang sama-sama pimpinan preman tetapi
tidak bertato melainkan bertempat tinggal dan bekerja di area lokalisasi Dolly
Surabaya. Beliau adalah Bapak H. Gatot Subiantoro, seorang mantan pimpinan
preman lokalisasi Dolly Surabaya yang sudah mulai insyaf sejak tahun 2000-an.
Bapak Gatot dan Bang Tato ini sama-sama mantan preman yang tidak jahat walaupun
pandangan orang menilainya salah “Preman itu bukan maling.” Ucap bapak Gatot
saat mennyampaikan kisahnya di acara workshop pada hari sabtu (13/04/2019).
Bapak yang lahir di Surabaya dan
bertempat tinggal di Dupak Bangunsari ini yang juga merupakan seorang bagian
Humas IDEAL MUI JATIM yang dimana pada saat itu beliau mendengarkan rutinitas ceramah
yang disampaikan oleh Ustadz Khoiron. “Saat itu Abah ceramah. Ya, isinya kayak
biasanya. Tapi saat mendengar kalimat ini, ‘Harta itu tidak ada batasnya, tapi
kalau umur ada batasnya’, aneh, saya langsung gemetar. Hati saya nelangsa,
ingat mati. Akhirnya, ya, ikut abah,” kata bapak Gatot. Hijrahnya bapak Gatot
ini banyak preman-preman lain yang mencibir dan mengata-ngatai beliau. Walaupun
begitu, bapak Gatot ini tidak menghiraukan ucapan yang mengata-ngatai beliau,
beliau senantiasa mengajak teman-teman sesama premannya untuk mau insyaf juga
seperti dia.
Bapak Gatot mulai lepas dari
pekerjaan lamanya yaitu mencari calon PSK di berbagai daerah. Pelosok Jawa
Timur dan sebagian Jawa Tengah pernah ia jelajahi guna mencari “mangsa”.
Hingga akhirnya oleh ustadz Khoiron memberi pekerjaan baru yaitu membantu dalam
kegiatan pengentasan PSK, sekaligus menjadi salah satu pengurus di Pondok
Pesantren Raudlatul Khoir, pesantren yang dirintis oleh Kiai Khoiron di
belakang kediamannya. Selain mengurus pondok pesantrean. Sembari berjualan
mobil, bapak Gatot ini juga mulai menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dia
lakukan pada masa lalu yaiu dengan berbuat kebaikan kepada orang-orang
disekitarnya. Yang akhirnya ada beberapa teman bapak Gatot yang juga ikut
insyaf dan akhirnya menyebar walaupun secara bertahap.
Di akhir kalimat ini, bapak Gatot
menyampaikan kepada mahasiswa UINSA pada acara workshop yang diselenggarakan
pada hari Sabtu (13/04/2019), bahwa “Dakwah itu jangan hanya di satu tempat
saja, jangan hanya kepada orang yang itu-itu saja. Tetapi berdakwah kepada
orang yang disekitarmu itu juga perlu. Atau berdakwalah di tempat seperti
lokalisasi ini karena masih banyak manusia yang membutuhkan tuntunan menuju
jalan yang benar.”
Kesan-Kesan dan Pelajaran Berharga
1. Bersyukur
masih bisa berkumpul dengan orang orang hebat ini .
2. Bisa
mendapatkan pengalaman yang sangat berharga bagi kami khususnya mahasiswa.
3. Termotivasi
dengan semangat hijrah masyarakat lokalisasi.
4. Tetap
semangat dan pantang mundur.
5. Kuliah
yang sangat lengkap, Selain mempelajari materi kita langsung terjun ke lapangan.
Setelah pelaksanaan kuliah
lapangan ini ilmu yang saya dapat adalah kita tidak boleh pantang semangat
untuk terus belajar selama kita masih diberikan kesehatan oleh allah swt,
selain itu kita harus belajar bersabar ketika menghadapi masalah apapun ,
lakukan dengan tulus hati.
Sekian terimakasih……

Komentar
Posting Komentar